Ketika layar telah menjadi ruang hidup dan kecerdasan artifisial mampu menghasilkan bahasa, gambar, argumen, serta rekomendasi dalam hitungan detik, persoalan pendidikan tidak lagi cukup dirumuskan sebagai “bagaimana menggunakan teknologi”. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: manusia seperti apa yang sedang kita bentuk ketika teknologi ikut hadir dalam proses berpikir, berbahasa, belajar, dan mengambil keputusan?
Komunikasi Digital Berkarakter: Model Pembelajaran Berbasis Neurokomunikasi untuk Bahasa, Jurnalisme, dan Kewargaan di Era Kecerdasan Artifisial mempertemukan ilmu komunikasi, neuroedukasi, bahasa, jurnalisme, kewargaan digital, analitik teks, pendidikan karakter, dan AI dalam satu kerangka human-centered. Buku ini menolak ketakutan berlebihan terhadap teknologi sekaligus optimisme tanpa kritik yang menyerahkan terlalu banyak agensi manusia kepada mesin.
Jantung buku ini adalah Model NADI Berkarakter, mulai dari Nyalakan perhatian dan nalar, Arahkan afeksi menuju makna, Dialogkan data, cerita, manusia, dan AI, serta Ikat pengetahuan menjadi tindakan berintegritas. Model ini diterapkan pada tiga ruang utama. Dalam pembelajaran bahasa, peserta didik diajak menulis bersama AI tanpa kehilangan suara dan kepengarangan. Dalam pendidikan jurnalisme, AI dan text mining digunakan sebagai alat menemukan pola, tetapi verifikasi, konteks, dan tanggung jawab editorial tetap berada pada manusia. Dalam kewargaan digital, pembaca diajak memahami algoritma, disinformasi, literasi media, dialog, empati, serta tindakan publik yang bertanggung jawab.
Buku ini juga menawarkan Kompas JERNIH untuk menjaga kualitas keputusan digital, yakni jeda, evaluasi, empati, nalar kontekstual, integritas, dan orientasi pada kebaikan bersama. Dengan bahasa yang komunikatif, buku ini memadukan pembahasan konseptual, contoh penerapan, refleksi, asesmen, serta agenda penelitian dan kebijakan. Ia tidak menawarkan teknologi sebagai jalan pintas, melainkan pendidikan sebagai ruang untuk menjaga agensi, privasi, keadilan, inklusi, dan martabat manusia.
Ditujukan bagi guru, dosen, mahasiswa, peneliti, jurnalis, pengembang kurikulum, praktisi komunikasi, dan pembuat kebijakan, buku ini mengajak pembaca memasuki masa depan tanpa kehilangan manusia di dalamnya. Di tengah mesin yang semakin pandai menjawab, pendidikan tetap harus menjaga keberanian untuk bertanya, memeriksa, memilih, dan bertanggung jawab.




Ulasan
Belum ada ulasan.