Kapan terakhir kali ayah dan anak duduk bersama, berbicara dari hati ke hati, tanpa ada ekspektasi yang membebani?
Seiring bertumbuhnya seorang anak dan mulai terbentuknya cara pandang mereka sendiri, ruang keluarga tak jarang berubah menjadi medan ketegangan diam-diam. Niat baik seorang ayah untuk mengarahkan dan melindungi kerap berbenturan dengan kebutuhan anak untuk sekadar didengarkan dan dipahami. Hasilnya? Ego yang meninggi, miskomunikasi yang terus berulang, dan gema bisu yang memekakkan telinga di meja makan.
Bincang Hati Ayah dan Anak hadir untuk memecah kebisuan tersebut. Dengan mengawinkan kerangka Ilmu Komunikasi Interpersonal dan kedalaman Tafsir Tarbawi, buku ini membongkar anatomi dialog keluarga yang selama ini keliru dipraktikkan.
Melalui lima pilar komunikasi yakni Keterbukaan, Empati, Dukungan, Sikap Positif, dan Kesetaraan, buku ini menelusuri bagaimana para nabi menyelesaikan krisis pengasuhan di setiap fasenya. Kita akan belajar meruntuhkan otoritarianisme dan menghargai argumen anak seperti Nabi Ibrahim dan Syu’aib, memeluk di saat paling kritis seperti Nabi Nuh, hingga menyembuhkan luka masa lalu seperti Nabi Ya’qub dan Yusuf.
Buku ini menjadi sebuah undangan rekonsiliasi. Sebuah panduan bagi para ayah untuk memosisikan diri sebagai teman diskusi yang setara tanpa kehilangan wibawa, dan pelita bagi anak-anak untuk senantiasa menemukan jalan pulang.
Sudah saatnya kita menurunkan ego, dan memulai obrolan hari ini.




Ulasan
Belum ada ulasan.