Banyak Muslim awam merasa cukup dengan ibadah sehari-hari, hingga satu hari tersadar akan pentingnya belajar agama. Kesadaran ini mulia, tetapi perjalanan berikutnya tidak selalu aman. Ada bahaya yang jarang dibicarakan: saat semangat belajar justru mengeras menjadi fanatisme dan sektarianisme, memutus hubungan dengan sesama yang berbeda pandangan.
Fenomena ini berawal dari banality of trivial differences—menganggap perbedaan kecil sebagai ancaman besar—dan berakhir pada self-imposed bubble, dunia sempit yang meyakinkan bahwa kitalah pusat kebenaran. Dalam lingkaran ini, rasa kasih berganti menjadi kecurigaan, dan dakwah berubah menjadi arena saling menghakimi.
Buku ini mengajak kita kembali merajut keseimbangan. Menggabungkan iman pada takdir, penghormatan pada ilmu yang terjaga mutawātir, dan keteladanan sahabat dalam bersikap bijak. Sebuah panduan agar semangat beragama tidak berubah menjadi beban, melainkan menjadi cahaya yang mempersatukan.




Ulasan
Belum ada ulasan.