Mengapa ilmu yang makin canggih justru sering terasa makin jauh dari persoalan nyata manusia? Buku ini lahir dari kegelisahan itu — sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan ulang arah ilmu pengetahuan yang selama ini kita kejar, terutama di ruang-ruang kampus tempat ilmu itu dibentuk.
Melalui delapan bab yang mengalir, buku ini membedah bagaimana fragmentasi ilmu, pemisahan agama dari sains, dan krisis nilai dalam teknologi telah melahirkan lulusan yang cakap secara teknis namun kurang peka secara kemanusiaan. Dari ruang kelas kedokteran, teknik, hingga ilmu sosial dan agama, penulis menunjukkan bagaimana perguruan tinggi — baik kampus Islam maupun kampus umum — bisa menjadi ruang perjumpaan antar-disiplin, bukan sekadar tempat mencetak gelar. Bertumpu pada gagasan ilmu profetik dan tradisi keilmuan Islam, buku ini mengajak pembaca menelusuri tiga jalan penting: humanisasi sains, liberasi sains, dan transendensi sains — sebagai jalan mengembalikan ilmu pada tujuan aslinya, yaitu menjaga martabat manusia dan keberlanjutan kehidupan.
Ditulis dengan bahasa yang ringan dan mengalir, buku ini cocok jadi teman berpikir bagi mahasiswa, dosen, dan siapa pun yang berkecimpung di dunia kampus — sekaligus siapa saja yang ingin melihat lagi, untuk apa sebenarnya ilmu yang kita kejar selama ini.




Ulasan
Belum ada ulasan.