Di zaman ketika layar menyala lebih cepat daripada percakapan, ketika algoritma diam diam menyusun perhatian, dan ketika kecerdasan buatan semakin mahir meniru bahasa manusia, pendidikan Bahasa Indonesia menghadapi pertanyaan besar. Bagaimana mengajarkan bahasa tanpa kehilangan manusia.
Media yang Berpikir, Bahasa yang Menyembuhkan: Neurokomunikasi, Literasi Digital, dan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Zaman Algoritmik mengajak pembaca memahami Bahasa Indonesia sebagai jembatan ilmu, rumah empati, sungai ingatan bangsa, dan ruang pemulihan di tengah derasnya dunia digital. Buku ini mempertemukan neurokomunikasi, literasi digital, kewargaan digital, pembelajaran multimodal, asesmen yang manusiawi, serta pedagogi neurodigital dalam satu alur yang reflektif, puitis, dan akademik.
Melalui delapan bab yang saling menyambung, pembaca diajak melihat bahwa pesan tidak berhenti di layar. Ia masuk ke tubuh, menyentuh saraf, membangkitkan emosi, membentuk ingatan, dan memengaruhi keputusan. Karena itu, bahasa tidak boleh dipakai secara sembrono. Ia dapat menjadi pelukan, tetapi juga dapat menjadi luka. Ia dapat membuka dialog, tetapi juga dapat menutup jalan pulang.
Buku ini menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan memakai gawai. Literasi digital adalah keberanian menunda, keberanian memeriksa, keberanian membaca bias, keberanian menjaga data, dan keberanian berpartisipasi secara bermakna di ruang digital. Di dalamnya, kelas Bahasa Indonesia dipahami sebagai komunitas etis, tempat peserta didik belajar menggunakan teknologi tanpa kehilangan nurani.
Pada bagian akhir, buku ini menawarkan gagasan pedagogi neurodigital Bahasa Indonesia, yaitu pembelajaran yang peka otak, peka data, peka budaya, dan peka terhadap luka manusia. Teknologi boleh membantu, AI boleh digunakan, data boleh dibaca, tetapi semuanya harus kembali kepada tujuan pendidikan yang paling dalam, yaitu menolong manusia berpikir jernih, berbahasa santun, berempati, dan hidup bersama dengan lebih bermartabat.
Buku ini ditujukan bagi mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan pembaca umum yang ingin memahami masa depan pembelajaran Bahasa Indonesia di zaman algoritmik. Ia bukan hanya buku tentang bahasa dan teknologi. Ia adalah ajakan untuk menjaga makna, merawat perhatian, menumbuhkan keberanian literasi, dan menjadikan bahasa sebagai jalan penyembuhan.
Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan media yang berpikir. Masa depan membutuhkan manusia yang berbahasa dengan hati.





Ulasan
Belum ada ulasan.