Di balik akad yang sakral, ada dua manusia yang membawa masa lalu, luka pengasuhan, ego, harapan, kebutuhan, dan cara mencintai yang berbeda. Karena itu, usia yang cukup dan status yang sah belum tentu berarti seseorang benar-benar siap membangun rumah tangga.
Lebih dari Sekadar Sah: Psikologi Qur’ani Menuju Kedewasaan Berumah Tangga mengajak Anda melihat pernikahan dari sudut pandang yang lebih dalam: bukan sekadar “bolehkah menikah?”, tetapi “sudah siapkah aku menjadi pasangan?”
Melalui perpaduan psikologi dan perspektif Al-Qur’an, buku ini membahas kematangan diri, attachment, pengelolaan konflik, kecerdasan moral, kesiapan kesehatan dan finansial, hingga makna baligh, rusyd, istitaah, dan mītsāqan ghalīzhan dalam pernikahan.
Buku ini juga membawa pembaca menuju praktik kehidupan rumah tangga seperti mengelola emosi, membangun komunikasi Qur’ani, menetapkan batasan yang sehat, serta merawat sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Sebab, pernikahan bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna. Ia adalah tentang menjadi seseorang yang cukup dewasa untuk mencintai, bertanggung jawab, dan terus bertumbuh.
Sebelum mengucapkan “sah”, mari bertanya lebih dalam: sudahkah kita benar-benar siap?



Ulasan
Belum ada ulasan.