Apa sesungguhnya yang berpindah ketika pengetahuan matematika diajarkan? Mengapa peserta didik dapat menjawab dengan benar namun tetap tidak memahami? Dan mengapa sistem pendidikan kita kerap gagal memandirikan mereka sebagai pemikir? Buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan menelusuri akar-akar filosofis didaktik matematika.
Berangkat dari Teori Antropologi Didaktik (ATD) yang digagas Yves Chevallard dan Didactical Design Research (DDR), buku ini mengkaji didaktik matematika melalui empat dimensi filosofis yang saling menopang: ontologi, epistemologi, metodologi, dan aksiologi. Pembaca diajak memahami praxeologi sebagai unit analisis [T, τ, θ, Θ], mekanisme transposisi didaktis, hambatan belajar sebagai fenomena epistemologis, hingga rancangan desain didaktis yang terjustifikasi sebelum diimplementasikan di ruang kelas.
Yang membedakan buku ini adalah keberpihakannya pada martabat peserta didik: penelitian didaktis bukan sekadar mengejar efektivitas, melainkan menjunjung kejujuran intelektual, penghormatan terhadap keberagaman cara berpikir, dan kemandirian epistemis sebagai tujuan tertinggi. Studi-studi kasus dari rangkaian penelitian penulis tentang berpikir aljabar awal dan proporsionalitas menjadikan gagasan-gagasan abstrak ini konkret dan dapat ditindaklanjuti.
Ditujukan bagi pendidik, peneliti, mahasiswa pascasarjana, dan siapa pun yang percaya bahwa perbaikan kualitas pembelajaran matematika hanya mungkin jika kita berani menggali fondasi filosofisnya, buku ini menawarkan bukan sekadar metode, melainkan sebuah cara pandang.
“Mengajar matematika bukanlah memindahkan bangunan yang sudah jadi dari satu kepala ke kepala lain, melainkan menata kembali kondisi agar pengetahuan dapat lahir kembali pada diri yang belajar.”




Ulasan
Belum ada ulasan.