Kairo, 1260 M.
Seorang pengawal tua bernama Qasim duduk di kamar sempit yang berbau minyak zaitun dan tanah lembab. Paru-parunya berderak setiap kali udara malam menjadi dingin. Dokter bilang ia tidak akan hidup melewati musim panas ini.
Tapi sebelum pergi, ia mengambil pena.
Bukan untuk menulis sejarah yang rapi dan terorganisir — melainkan kesaksian. Tentang seorang perempuan yang pernah ia kawal selama dua puluh tahun. Tentang nama yang selama empat puluh tahun tidak pernah ia ucapkan keras-keras kepada siapapun.
Syajarat al-Durr.
Pohon Mutiara.
Dari seorang gadis budak di perbukitan Armenia hingga menjadi penguasa tunggal Mesir, perjalanan Syajarat adalah kisah tentang bagaimana seorang perempuan mengubah jalannya perang hanya dengan sebatang pena dan peta yang ia coret-coret di tengah malam.
Ketika Sultan As-Salih Ayyub wafat di tengah invasi Pasukan Salib pimpinan Raja Louis IX dari Prancis, Syajarat mengambil keputusan paling berbahaya dalam hidupnya: merahasiakan kematian suaminya. Selama tiga puluh hari, ia memimpin perang dari balik tabir, menulis perintah dengan tangan yang meniru tulisan Sultan yang sudah tiada.
Ia memenangkan pertempuran. Ia menyelamatkan Mesir.




Ulasan
Belum ada ulasan.