Sebagian kisah tidak diciptakan untuk dimenangkan.
Melainkan hanya untuk dijalani, dan dikenang.
Setelah disakiti, Arga memilih pergi—bukan untuk melupakan, tetapi untuk bertahan. Di sudut kota Jogja yang asing dan tenang, ia hidup di antara denting cangkir kopi dan dentuman musik yang sunyi, berharap waktu bisa menenangkannya seperti senja yang jatuh perlahan.
Namun masa lalu adalah sesuatu yang tak bisa dikubur dalam-dalam. Ia kembali, tanpa aba-aba. Dalam bentuk perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati, dan dalam kepergian yang tak lagi ia kejar.
Ketika pertemuan dan perpisahan bertabrakan dalam satu malam, Arga akhirnya menyadari: beberapa luka tak membutuhkan obat.
Beberapa cinta tak menuntut akhir yang indah.
Untuk siapa pun yang pernah ditinggalkan tanpa alasan.
Untuk mereka yang tahu, tak semua hujan perlu payung.
Dan untuk hati yang pelan-pelan belajar melepaskan, tanpa merasa kalah.
“Jejak Hujan” adalah elegi tentang kehilangan, penerimaan, dan cinta yang tumbuh tidak untuk dimiliki—melainkan untuk mengajarkan kita cara bertahan.




Ulasan
Belum ada ulasan.