Pernahkah terlintas di benak kita bahwa agama seolah hanya berisi “Jangan begini” atau “Jangan begitu”?
Sering kali, keberadaan aturan agama dirasakan layaknya “polisi tidur”. Di mata kita yang sedang asyik melaju cepat menikmati dunia, fungsinya seakan hanya satu: gangguan yang menghambat kenyamanan dan memperlambat kesenangan.
Namun, cobalah mengubah sudut pandang tersebut. Bagaimana jika “polisi tidur” itu dipasang bukan untuk menghalangi laju kita, melainkan wujud kasih sayang agar kita tidak mengalami kecelakaan fatal?
Buku ini hadir mengajak kita memaknai kembali satu kata istimewa dari Nabi Muhammad ﷺ: “IYYAKUM”.
Perlu dicatat, kata ini berbeda dengan wa iyyakum yang biasa kita ucapkan untuk membalas doa Jazakumullahu Khairan.
Secara harfiah, kata ini bermakna “Jauhilah”. Namun, melalui pendekatan rasa (dzauq), Iyyakum bukanlah bentakan kasar bermakna “Berhenti!”, melainkan seruan lembut bermakna “Awas!”.
Ini bukan sekadar larangan, melainkan sebuah Bahasa Cinta.
Layaknya seruan “Awas!” seorang ibu saat anaknya mendekati bahaya, 13 hadis pilihan dalam buku ini hadir untuk melindungi mentalitas kita di era modern:
● Meredam prasangka (Zhan) yang memicu overthinking.
● Menghindari jebakan validasi semu (Tamaduh).
● Mencegah ibadah ekstrem (Ghuluw) yang menyebabkan kelelahan mental (burnout).
● Mengobati ilusi kemiskinan (Tamak).
Buku ini tidak hadir untuk mengekang, melainkan hanya ingin membisikkan pesan: “Hati-hatilah, aku ingin kalian selamat.”





Ulasan
Belum ada ulasan.