“Satu tetes gerimis adalah janji langit yang enggan menyerah. Ia jatuh bukan sekadar untuk membasahi, melainkan untuk melubangi kebebalan kita yang sering lupa merawat sumber kehidupan.”
Bumi yang retak dan mata air yang perlahan surut adalah alarm sunyi yang sedang berbunyi. Di tengah ancaman kekeringan dan pengabaian, alam sebenarnya terus berbisik—lewat rintik hujan yang tak pernah lelah mengetuk tanah, memohon agar diberi ruang untuk pulang.
Gerimis Tak Merelakan Bumi Jadi Tandus hadir sebagai sebuah refleksi kolektif yang jujur dan mendalam. Ditulis dengan penuh penghayatan oleh para murid dan guru dari 4 sekolah, yaitu SMP Swasta 5 Best Agro International, SD Swasta 23 Best Agro, SMP Swasta Wana sawit, SD Swasta Wana Sawit Garuda Timur. Antologi puisi ini merajut untaian kata menjadi tamparan sekaligus pelukan hangat tentang pentingnya konservasi air.
Melalui metafora gerimis, sungai, dan akar pohon yang haus, para penulis mengajak kita menyelami hakikat air: Menghargai setiap tetes yang jatuh sebagai anugerah yang mendesak untuk dijaga.
Buku ini adalah nyanyian rintik hujan yang ingin abadi di dalam tanah, sebuah pengingat bahwa merawat air adalah cara kita merawat napas kita sendiri. Selamat membaca, selamat menabung masa depan!



Ulasan
Belum ada ulasan.