Apa arti bekerja jika seseorang mendapatkan upah, tetapi kehilangan rasa aman, penghargaan, dan martabat? Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting. Fleksibilitas kerja, ekonomi digital, hubungan kerja berbasis platform, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja menghadirkan wajah baru dunia ketenagakerjaan—wajah yang tidak selalu sejalan dengan gagasan tentang keadilan.
Dari Upah ke Martabat: Mencari Keadilan Substantif di Dunia Kerja mengajak pembaca melihat dunia kerja melampaui angka upah dan bunyi pasal-pasal hukum. Buku ini mempertemukan norma dan realitas, hukum dan keadilan, serta teori dan pengalaman manusia yang menjalani kehidupan kerja sehari-hari.
Pembahasan dimulai dengan menempatkan kerja sebagai bagian dari kehidupan manusia dan mengajak pembaca memahami pergeseran makna dari sekadar memperoleh upah menuju pemenuhan martabat. Selanjutnya, buku ini membedah berbagai persoalan dunia kerja modern, mulai dari fleksibilitas yang dapat menghadirkan peluang sekaligus kerentanan, PHK, relasi kuasa di tempat kerja, hingga peran serikat pekerja.
Buku ini juga mengkritisi keterbatasan pendekatan hukum yang terlalu prosedural. Kepatuhan terhadap aturan belum selalu berarti terwujudnya keadilan substantif. Karena itu, pembahasan diarahkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana hukum, negara, pengusaha, pekerja, dan institusi ketenagakerjaan dapat membangun ruang kerja yang benar-benar menghargai manusia?
Pada bagian akhir, buku ini menawarkan perspektif menuju dunia kerja yang lebih bermartabat melalui pendekatan kapabilitas, budaya kerja humanis, negosiasi, serta refleksi terhadap masa depan kerja. Kisah-kisah komposit para pekerja turut menjadi jendela untuk memahami bahwa di balik setiap kontrak, angka, dan kebijakan, terdapat manusia dengan kebutuhan, harapan, dan kehidupan yang harus dihargai.
Buku ini ditujukan bagi praktisi hukum, aktivis buruh, pengelola SDM, pengusaha, akademisi, mahasiswa, maupun siapa pun yang ingin memahami persoalan ketenagakerjaan dari perspektif yang lebih manusiawi.
Sebab, pada akhirnya, kerja bukan hanya tentang berapa banyak yang kita terima sebagai upah, tetapi tentang bagaimana manusia dihargai ketika ia bekerja.




Ulasan
Belum ada ulasan.