Ada rasa yang terlalu megah untuk dijabarkan oleh kata baku, dan ada luka yang terlalu sunyi untuk diadukan pada bisingnya dunia. Pada akhirnya, semua itu mengendap di kedalaman batin, menjelma menjadi rahasia-rahasia menjadi sesuatu Yang Tak Terucap.
Buku antologi puisi ini adalah sebuah ruang katarsis, tempat di mana riuh rendahnya pikiran diberi bentuk dan jiwa. Lewat untaian bait yang puitis sekaligus jujur, pembaca diajak mengarungi labirin emosi manusia. Mulai dari perenungan hakikat penciptaan dalam Sulalah Min Thin, getirnya memeluk kerapuhan dalam Menadah Patah serta Membopong Biru di Tulang Pena, hingga langkah-langkah awal mendewasa yang penuh bimbang dalam Calon Bantara dan Masih Amatir.
Tidak berhenti pada sunyi dan lara, antologi ini juga menjadi tempat pulang yang hangat melalui ketukan rindu pada figur pelindung dalam Apa Kabar, Ayah? serta teduhnya Doa Ibu. Buku ini adalah pembuktian bahwa ketika lidah kelu dan sabda gugur tanpa aksara, larik-larik puisilah yang maju untuk menyuarakan kebenaran rasa.
Bagi siapa saja yang sedang tertegun arah, merindukan pulang, atau sekadar ingin merayakan emosi dengan lebih dalam, buku ini hadir sebagai kawan sepi yang memahami setiap bagian diri Anda yang paling rahasia.




Ulasan
Belum ada ulasan.