Buku ini merupakan studi politik internasional dari Amerika, Asia Timur – Korea Selatan, Asia tenggara seperti Thailand, Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Dalam upaya untuk mencari pola bahwa politik akan selalu bergerak dinamis, tidak hanya di asia tenggara tapi di seluruh dunia polanya sama.
Buku ini mencoba mengupas fenomena politik secara tajam dengan perspektif filsafat seperti naiknya kembali Donald Trump, terpilihnya BongBong Marcos padahal keluarganya dulu memiliki banyak skandal, hubungan panas dingin Mahathir Mohamad dengan Anwar Ibrahim, naiknya Presiden Korea Yoon Sok Yeol, serta yang paling penting adalah sejarah konflik kerajaan nusantara hingga politik Indonesia modern yaitu siteru hubungan antara Jokowi, Mega, dan SBY.
Dan semua sitegang ini baik karena akan menghasilkan satu progres baru dalam peradaban.
Progres peradaban dunia terjadi karena adanya konflik dan perubahan dalam politik. Segala negativitas, destabilitas, kesangsian akan membawa peradaban pada etape baru, pada keutamaan baru.
Tulisan ini mencoba berangkat dari contoh nyata di berbagai negara, sebagian besar asia tenggara untuk menjadikan fokus studi sehingga tulisan bisa dijadikan rujukan studi regional, dan mengambil kasus Amerika untuk membuktikan universalitasnya.
Dalam teori pikiran filsafat, seluruh fenomena konflik ini bisa diterangkan, semuanya akan diteropong dengan menggunakan pemikir mulai dari dialektika Hegel, siteru Mouffe & Laclau, Derrida, Foucault, Sartre, hingga Adorno. Akan didedah dari kasus per kasus hingga tuntas.
Di akhir tulisan mencoba menutup tesis konflik namun menggantungkan pada satu keterbukaan pikiran baru pada hubungan konflik dan stabilitas, teori baru bernama elastisitas peradaban untuk mendistansiasi tulisan dari teori konflik ala Marxian. Bahwa konflik memang membuka ruang progres, tapi konflik berkepanjangan justru membawa pada nihilisasi





Penerbit Buku Minhaj Pustaka –
Elastisitas Politik: Siteru Kuasa dalam Peradaban