Pernikahan seharusnya menjadi tempat pulang, tapi tidak untukku.
Sejak awal, pernikahan ini berdiri di atas penolakan. Ibunya tak pernah merestui, dan aku dipaksa membangun rumah tangga tanpa pondasi kasih, hanya tembok curiga dan kebencian. Hari demi hari, wajah suamiku yang dulu kupercaya berubah menjadi topeng manipulatif—pelit, dingin, kasar, dan tanpa empati. Kata-kata tajam menjadi makanan harian, tangannya bukan lagi tempat perlindungan, tapi sumber luka fisik dan batin.
Aku menjadi istri yang tak hanya tak dicintai, tapi juga dilukai—oleh suami dan keluarganya.
Dari rahasia keuangan yang kutak tahu, sampai beban ekonomi yang membuatku harus mencari penghasilan sendiri, semua kulalui dalam diam. Sementara itu, mertua dan ipar mencampuri segalanya, memperkeruh keadaan, menghasut, dan terus menekan. Aku adalah menantu yang tak pernah diinginkan, istri yang tak pernah dihargai.
Dan di balik semua itu, ada bayang-bayang ilmu hitam, permainan dukun yang membuat semuanya terasa seperti kutukan.
Ini bukan sekadar cerita seorang istri yang dizalimi. Ini adalah kesaksian seorang perempuan yang bertahan, yang luka tapi tak tumbang. Yang jatuh, tapi akhirnya memilih bangkit. Karena kadang, dari neraka, seseorang bisa menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu ada dalam dirinya.




Penerbit Buku Minhaj Pustaka –
14 Tahun dalam Pelaminan Neraka
sopyant –
14 Tahun dalam Pelaminan Neraka